Jenis Solar Industri dan Standar Berat Jenis yang Berlaku

Bagikan:
Pelajari jenis solar industri dan standar berat jenisnya untuk memastikan efisiensi, kompatibilitas mesin, dan kepatuhan terhadap regulasi.
Jenis solar industri dan ketauhi berat jenis solar yang terbaru
Daftar Isi

Memahami jenis-jenis solar industri dan standar berat jenisnya akan membantu Anda memilih produk yang paling sesuai untuk mesin dan kebutuhan operasional Anda. Dalam dunia industri modern, efisiensi energi dan kesesuaian bahan bakar menjadi aspek penting yang tak bisa diabaikan. 

Solar industri adalah salah satu jenis bahan bakar vital yang digunakan dalam berbagai sektor berat, dari pembangkit listrik hingga pelayaran. 

Apa Saja Jenis Solar Industri?

Solar industri memiliki berbagai jenis berdasarkan komposisi, viskositas, dan aplikasi mesinnya. Pemilihan jenis solar sangat memengaruhi efisiensi mesin, emisi yang dihasilkan, hingga kepatuhan terhadap regulasi lingkungan.

Setiap jenis solar memiliki keunggulan teknis yang menjadikannya cocok untuk situasi dan kondisi berbeda. Misalnya, MFO lebih hemat untuk pembangkit uap berkapasitas besar karena energinya tinggi per liter, namun hanya optimal pada suhu kerja tinggi. Di sisi lain, HSD lebih stabil dalam suhu ruang dan tidak memerlukan pemanasan, menjadikannya pilihan fleksibel untuk genset dan alat berat yang berpindah lokasi.

Sementara solar campuran biodiesel makin luas dipakai seiring mandat pemerintah, yang sejak 2025 berada pada tingkat B40. Perlu dicatat, angka pada B20, B30, dan B40 menunjukkan persentase FAME di dalam campuran, bukan persentase penurunan emisi. Manfaat iklimnya terletak pada porsi bahan bakar yang berasal dari sumber nabati, bukan pada pemangkasan emisi knalpot sebesar angka tersebut.

  • High Speed Diesel (HSD)
    Digunakan untuk mesin diesel berputaran tinggi seperti alat berat, genset, dan kendaraan niaga. Umumnya memiliki kandungan sulfur lebih rendah dari MFO.
  • Marine Fuel Oil (MFO 180 dan MFO 380)
    Jenis solar berat untuk mesin diesel berputaran rendah seperti mesin kapal dan boiler industri. Viskositasnya tinggi, berat jenisnya besar, dan kandungan sulfur cenderung tinggi.
  • Marine Gas Oil (MGO)
    Distilat ringan untuk kapal laut dan kegiatan di perairan. Karena viskositasnya rendah, MGO tidak memerlukan pemanasan awal sebelum masuk ke mesin, berbeda dengan MFO.
  • Solar Campuran Biodiesel (B20, B30, B40)
    Dikenal juga sebagai solar nabati, mengandung FAME (Fatty Acid Methyl Esters). Angka di belakang huruf B menunjukkan persentase FAME dalam campuran, dan mandat nasional yang berlaku sejak 2025 adalah B40.

Standar Berat Jenis Solar Industri Berdasarkan Jenisnya

Berat jenis solar industri adalah salah satu parameter teknis yang penting dalam spesifikasi bahan bakar. Nilai ini mencerminkan kepadatan bahan bakar, yang memengaruhi daya bakar, efisiensi mesin, serta laju emisi.

Berat jenis solar tidak hanya menentukan bobot per liter, tetapi juga memengaruhi sifat aliran (flowability), pola penyemprotan injektor, serta pembentukan kerak di ruang bakar. 

Karena itu, produsen solar industri wajib mematuhi spesifikasi berat jenis sebagai bagian dari compliance mutu. Di Indonesia, pengujian ini juga menjadi persyaratan dalam audit mutu bahan bakar untuk industri migas, pertambangan, hingga pelayaran.

Pengujian rutin terhadap solar industri yang diterima dari pemasok sangat dianjurkan. Beberapa perusahaan bahkan memiliki laboratorium internal untuk mengecek ulang spesifikasi, guna menghindari penggunaan bahan bakar yang dapat merusak sistem mekanis bernilai tinggi.

  • High Speed Diesel (HSD): 820–870 kg/m³
  • MFO 180: 960–980 kg/m³
  • MFO 380: sekitar 980 kg/m³, dengan batas maksimum 991 kg/m³ untuk gred RMG 380 menurut ISO 8217
  • Biosolar B20: 815–870 kg/m³
  • Biosolar B30: 815–880 kg/m³

Seluruh pengujian mengacu pada standar ASTM D4052 / D1298. Nilai berat jenis ini bersifat baku dan diatur dalam Peraturan Menteri ESDM serta SK Dirjen Migas terbaru.

Faktor yang Memengaruhi Berat Jenis Solar Industri

Beberapa faktor dapat mengubah berat jenis solar industri, baik dalam proses produksi maupun penyimpanan. Penting untuk memahami faktor-faktor berikut sebelum distribusi atau penggunaan.

Faktor penyimpanan juga sangat krusial. Solar industri yang disimpan terlalu lama tanpa sirkulasi bisa mengalami oksidasi ringan, mengubah viskositas dan berat jenisnya. 

Apalagi jika tangki penyimpanan tidak dilengkapi dengan sistem pembuangan air bawah (drainage), kandungan air dapat meningkat dan menurunkan performa bahan bakar saat dipakai.

Di lokasi industri yang jauh dari pusat distribusi, kontrol terhadap kondisi penyimpanan menjadi tantangan tersendiri. 

Maka dari itu, pemantauan suhu tangki dan penggunaan aditif anti-kontaminan juga sangat direkomendasikan untuk menjaga kualitas solar tetap optimal selama masa simpan.

  • Kandungan FAME (biodiesel): Semakin tinggi kadar FAME, semakin besar berat jenisnya.
  • Porsi fraksi berat: Solar yang mengandung lebih banyak fraksi berat dan residu kilang cenderung lebih padat, dan gred semacam itu biasanya juga berkadar sulfur lebih tinggi.
  • Aditif dan kontaminan: Kehadiran air, partikel debu, atau aditif pembentuk abu dapat menaikkan berat jenis dan merusak performa mesin.
  • Suhu lingkungan: Berat jenis solar menurun pada suhu tinggi.

Apa Beda Solar Industri dan Solar Biasa?

Banyak yang masih bingung membedakan antara solar industri dan solar biasa (subsidi). Keduanya memiliki karakteristik yang sangat berbeda, terutama dari sisi teknis dan peraturan distribusi. Perbedaan ini juga berdampak langsung terhadap performa mesin, efisiensi operasional, hingga izin penggunaannya.

Berikut perbandingan lengkapnya:

AspekSolar IndustriSolar Subsidi
Kandungan SulfurMengikuti spesifikasi gred yang dibeli; tersedia gred berkadar sulfur rendahMengikuti spesifikasi Biosolar bersubsidi, yang batas sulfurnya lebih longgar dibanding gred non-subsidi seperti Pertamina Dex
Distribusi dan AksesMelalui kontrak khusus, distributor resmi, tidak tersedia di SPBU umumBisa dibeli di SPBU, untuk kendaraan pribadi dan umum
Harga dan SubsidiHarga pasar, tanpa subsidiHarga lebih murah karena disubsidi pemerintah
Tujuan PenggunaanUntuk industri berat, mesin putaran tinggi, genset, boilerUntuk kendaraan bermotor, alat transportasi publik
Kompatibilitas MesinDirancang untuk mesin besar dengan sistem pembakaran tertutupSesuai untuk mesin kendaraan pribadi dan komersial
Kandungan EmisiBergantung pada kadar sulfur dan angka setana gred yang dipakai, bukan pada label industrinyaBergantung pada spesifikasi Biosolar bersubsidi serta kondisi mesin kendaraan

Perbedaan dalam sistem filtrasi dan bahan injektor kendaraan juga membuat solar industri tidak kompatibel untuk mobil pribadi. 

Gred solar industri yang berat, seperti MFO, memang meninggalkan lebih banyak residu karbon karena mengandung fraksi residu kilang. Gred semacam itu dirancang untuk mesin putaran rendah dan boiler, bukan untuk sistem injeksi bertekanan tinggi pada kendaraan penumpang.

Kenapa Berat Jenis Penting dalam Pemilihan Solar Industri?

berat jenis solar mempengaruhi pembakaran pada mesin tidak sempurna

Sebelum menentukan jenis solar industri yang akan digunakan, memahami pentingnya berat jenis adalah hal utama yang harus diperhatikan. Berat jenis yang tidak sesuai dapat menyebabkan pembakaran tidak sempurna dan kerusakan mesin.

  • Efisiensi pembakaran: Solar dengan berat jenis ideal akan menghasilkan pembakaran optimal dan mengurangi residu.
  • Kesesuaian dengan sistem injeksi mesin: Solar terlalu padat bisa menghambat kerja injektor dan merusak komponen.
  • Perhitungan konsumsi bahan bakar: Berat jenis digunakan untuk mengukur efisiensi per liter terhadap energi yang dihasilkan.

Standar Uji Berat Jenis Solar Industri

Pengujian berat jenis solar industri menggunakan metode yang diakui internasional. Hal ini penting untuk memastikan kualitas produk yang dipakai dalam operasional industri besar.

  • ASTM D4052 / D1298: Mengukur berat jenis menggunakan densitometer digital atau hidrometer.
  • SNI 7182: Standar nasional untuk mutu biodiesel FAME, yaitu bahan yang dicampurkan ke dalam solar.
  • EN 590: Standar solar otomotif Eropa. Perlu dicatat, EN 590 hanya mengizinkan campuran FAME sampai 7 persen, sehingga B30 dan B40 berada di luar cakupannya.

Rekomendasi Memilih Jenis Solar Industri Sesuai Kebutuhan

Setiap jenis mesin dan aplikasi industri memiliki kebutuhan spesifik terhadap solar. Berikut rekomendasi pemilihannya:

Dalam menentukan jenis solar terbaik, pelaku industri juga harus mempertimbangkan logistik dan frekuensi pemakaian. 

Untuk alat berat yang hanya beroperasi musiman, memilih solar dengan umur simpan lebih panjang seperti HSD sangat disarankan. 

Namun, jika operasional berlangsung 24/7 seperti pada pabrik tekstil atau industri baja, menggunakan solar yang tahan panas tinggi seperti MFO bisa lebih efisien secara biaya operasional.

Di sisi lain, proyek dengan fokus pada keberlanjutan dan sertifikasi hijau seperti LEED atau ISO 14001 juga mulai memilih solar jenis B40. 

Selain lebih ramah lingkungan, solar B40 juga membuka peluang kerja sama dengan program pemerintah dalam insentif energi bersih.

  • Industri kelautan / boiler besar: Gunakan MFO 180 atau MFO 380.
  • Genset dan alat berat darat: Gunakan HSD atau solar B30.
  • Daerah dingin dan pegunungan: Utamakan distilat seperti HSD atau MGO dengan titik tuang rendah, karena kandungan FAME yang tinggi justru memperburuk sifat alir pada suhu dingin.
  • Proyek dengan target emisi rendah: Gunakan solar B40.

Penyesuaian Standar Berat Jenis Terbaru Berdasarkan Regulasi

Standar baru telah diberlakukan untuk meningkatkan efisiensi dan mendukung target emisi nasional. Menurut SK Dirjen Migas No. 0234.K/10/DJM.S/2019, kadar sulfur maksimum untuk solar B30 ditetapkan 500 ppm, dengan sasaran pengetatan menuju 50 ppm mulai 2025. Angka ini mengacu pada ketentuan yang berlaku saat artikel disusun, sehingga sebaiknya diperiksa terhadap keputusan Dirjen Migas terbaru sebelum dipakai sebagai acuan kontrak. Hal ini mendorong peralihan dari solar konvensional ke solar nabati seperti Biodiesel B40.

Mulai Pemesanan Solar Industri Bersama Kami

Memahami jenis solar industri dan standar berat jenis yang berlaku merupakan langkah penting untuk memastikan efisiensi mesin, kepatuhan terhadap regulasi, dan keberlanjutan lingkungan. 

Perhitungan yang tepat akan membantu perusahaan menghindari pemborosan dan menjaga kinerja operasional dalam jangka panjang. Ingin solusi solar yang efisien, ramah lingkungan, dan sesuai regulasi terbaru? Coba Biodiesel B40 sekarang atau hubungi kami di kontak resmi Solar Industri untuk konsultasi kebutuhan industri Anda.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa saja jenis solar industri?

Yang umum dipakai adalah High Speed Diesel atau HSD untuk mesin putaran tinggi seperti genset dan alat berat, Marine Fuel Oil atau MFO 180 dan 380 untuk mesin putaran rendah dan boiler, Marine Gas Oil atau MGO sebagai distilat ringan untuk kapal, serta solar campuran biodiesel yang di Indonesia kini mengikuti mandat B40.

Apa itu berat jenis solar dan mengapa penting?

Berat jenis atau densitas adalah massa bahan bakar per satuan volume, biasanya dinyatakan dalam kilogram per meter kubik pada suhu acuan 15 derajat Celsius. Angka ini dipakai untuk mengubah volume menjadi massa dalam serah terima, dan ikut menentukan karakteristik penyemprotan serta pembakaran di ruang bakar.

Apa beda solar industri dan solar subsidi?

Perbedaan pokoknya ada pada jalur distribusi dan peruntukan. Solar industri dijual dengan harga pasar melalui distributor resmi berdasarkan kontrak, dan diperuntukkan bagi kegiatan usaha. Solar subsidi dijual di SPBU dengan harga yang ditetapkan pemerintah untuk konsumen yang berhak. Kadar sulfur ditentukan spesifikasi tiap gred, bukan oleh label industri atau subsidi.

Apakah kandungan biodiesel memengaruhi berat jenis solar?

Ya. FAME berdensitas lebih tinggi daripada solar distilat, sehingga makin besar porsi campurannya, makin tinggi pula berat jenis campurannya. Kandungan FAME juga memperburuk sifat alir pada suhu dingin dan memperpendek masa simpan, sehingga penyimpanan jangka panjang perlu perhatian lebih.

Standar apa yang dipakai untuk menguji berat jenis solar?

Pengujian densitas mengacu pada ASTM D1298 dengan hidrometer atau ASTM D4052 dengan densitometer digital. Spesifikasi mutu solar yang dipasarkan di Indonesia ditetapkan melalui Keputusan Dirjen Migas, sedangkan SNI 7182 mengatur mutu biodiesel FAME sebagai bahan campurannya.

Solar jenis apa yang cocok untuk genset dan alat berat?

HSD atau solar campuran biodiesel sesuai mandat yang berlaku adalah pilihan yang lazim, karena tidak memerlukan pemanasan awal dan cocok untuk mesin putaran tinggi. MFO tidak sesuai untuk genset karena viskositasnya tinggi dan harus dipanaskan lebih dahulu. Untuk peralatan yang jarang dipakai, perhatikan masa simpan bahan bakarnya.

Artikel Terkait

Butuh Supplier Solar Industri dengan Pengiriman Cepat?
Kami siap melayani distribusi solar ke seluruh wilayah Indonesia dengan armada tepercaya dan tangki standar industri.

Butuh Informasi Lebih Lanjut?

Apabila anda tertarik dengan penawaran kami, konsultasikan segera kebutuhan anda dengan menghubungi kontak kami untuk mendapatkan informasi lebih detail terkait produk perusahaan.