Negara Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan dan negara maritim. Julukan tersebut bukan lahir dari semata-mata karena keinginan negara Indonesia sendiri, namun kenyataannya memang Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah termasuk batuan karbonat sebagai reservoir minyak bumi.
Kekayaan alam ini baik mencakup kekayaan mineral ataupun keberagaman makhluk hidup (biodiversitas) sebagai energi terbarukan. Namun, kita di sini akan membahas lebih mengenai batuan tersebut sebagai batuan reservoir penyimpan komoditas Indonesia berupa minyak bumi.
Nah, pembahasan kali ini cukup seru dan sedikit lebih panjang. Yuk kenali secara mendalam pengertian, faktor penyusunannya, hingga manfaatnya sebagai sumber komoditas Indonesia!
Pengertian Batuan Karbonat
Batuan karbonat adalah batuan yang mengandung material karbonat lebih dari 50% tersusun atas partikel klastik yang tersemenkan. Batuan karbonat yang familiar adalah gamping namun ada jenis lain yang memiliki kandungan mineral karbonat yang lebih dari 50%.
Melansir, jurnal teknologi technoscientia, batuan karbonat adalah batuan sedimen yang mempunyai komposisi dominan terdiri dari garam-garam karbonat, sedang dalam prakteknya secara umum meliputi batu gamping dan dolomit.
Klasifikasi Batuan Karbonat
Berikut merupakan klasifikasi batuan karbonat menurut para ahli.
1. Klasifikasi Batuan Menurut Folk
Komponen penyusun ini terbagi menjadi tiga, antara lain butiran (allochems), sparite, dan micrite. Allochems ini memiliki bentuk kecil menyerupai pasir atau kerikil yang berasal dari sedimen klastik.
Micrite atau microcrystalline adalah komponen penyusun berupa agregat halus berukuran 1-4 mikron sebagai pembentuk mineral kalsit.
Batuan selanjutnya adalah sparite. Sparite merupakan semen yang mengisi ruang antar butir dan rekahan batuan, berukuran butir halus sekitar 0,02-1mm. Terbentuk langsung dari sedimen secara insitu maupun dari rekristalisasi mikrit.
2. Klasifikasi Batuan Menurut Dunham
Klasifikasi berdasarkan pada tekstur deposisi dari batu gamping dengan ciri-ciri sayatan tipis dan tekstur deposisionalnya. Penentuan tingkat energi adalah fabrik batuan.
Bila batuan bertekstur dan mudah ditumbuhi lumut maka termasuk dalam kategori energi rendah karena beranggapan batuan tersebut terbentuk pada lingkungan berarus tenang.
Sedangkan batuan dengan struktur butiran terbentuk pada energi gelombang kuat sehingga hanya meninggalkan atau mengendapkan butiran yang tidak ikut terangkat.
3. Klasifikasi Batuan Menurut Embry & Klovan
Klasifikasi batuan sedimen oleh Embry & Klovan pada tahun 1971 adalah batuan sedimen karbonat, yaitu batuan sedimen dengan komposisi yang dominan (lebih dari 50%) terdiri dari mineral karbonat, meliputi batu gamping dan dolomit.
Dalam klasifikasi tersebut, tekstur batuan yang terbentuk saat pengendapan yang menjadi dasar pengklasifikasian.
Baca juga: Kenali 7 Proses Pengolahan Minyak Bumi
Diagenesa Batuan Karbonat
Secara harfiah, diagenesa adalah perubahan dari sedimen atau batuan sedimen yang ada menjadi batuan sedimen yang berbeda selama dan setelah terbentuknya batuan (litifikasi), pada suhu dan tekanan kurang dari yang dibutuhkan untuk pembentukan batuan metamorf.
Secara umum lebih banyak terbentuk akibat proses kimia dan proses biologi dengan kata lain proses geokimia dan biogenetik.
Proses-proses diagenesis batuan tersebut meliputi pelarutan, sementasi, dolomitisasi, aktivitas mikrob, kompaksi mekanik, dan kompaksi kimia.
Porositas Batuan Karbonat
Porositas artinya adalah sebagai perbandingan antara volume ruang pori-pori terhadap volume batuan total (bulk volume). Besar-kecilnya porositas suatu batuan akan menentukan kapasitas penyimpanan fluida reservoir.
Porositas batuan karbonat terbagi menjadi dua, yaitu:
- Porositas absolute, perbandingan antara volume pori total terhadap volume batuan total yang dinyatakan dalam persen.
- Porositas efektif, perbandingan antara volume pori-pori yang saling berhubungan terhadap volume batuan total (bulk volume) yang dinyatakan dalam persen.
Faktor Pembentuk Batuan Karbonat
Inilah beberapa faktor eksternal yang mempengaruhi pengendapan ini antara lain:
1. Sedimen Klasitik (Darat)
Faktor ini berpengaruh krusial karena batuan memerlukan lingkungan yang praktis bebas dari sedimen klasik asal darat. Mengapa demikian? Sedimen klastik darat mampu menghambat proses fotosintesa batu kapur.
Faktor eksternal yang mempengaruhi pengendapan batuan ini adalah iklim dan suhu. Rata-rata batuan jenis ini mengalami proses pengendapan di perairan hangat dan beriklim tropis. Tidak heran jika pertambangan batu kapur banyak berada di negara tropis seperti Indonesia.
2. Kedalaman
Batuan jenis ini mengendap di daerah perairan dangkal dimana sinar matahari bisa menembus kedalaman air. CCD (Carbonate Compensation Depth) adalah suatu garis yang merupakan batas kedalaman air di mana sedimen masih karbonat dapat ditemukan dengan mudah.
3. Faktor Mekanik
Faktor mekanik di sini artinya sebagai faktor mekanis yang mempengaruhi kecepatan pengendapan. Sama seperti faktor eksternal, cepat lambatnya bergantung pada aliran laut, pencampuran air, degradasi mikroorganisme, serta pH air laut.
Baca juga : Macam-macam Metode Drilling Pada Minyak Bumi
Kegunaan Batuan Karbonat
Batuan karbonat memiliki kelebihan yang berguna untuk kepentingan agrikultur dan industri.
- Memiliki manfaat di bidang arsitektur sebagai bahan bangunan. Beberapa masyarakat yang dekat dengan kawasan batu kapur, biasanya membuat pondasi atau dinding rumah menggunakan gamping atau yang familiar adalah batu kapur.
- Reservoir atau tempat menyimpan cadangan petroleum lebih dari sepertiga cadangan keseluruhan di bumi.
Baca juga : Mengenal Minyak Bumi, Sumber Daya Alam Penting dalam Kehidupan Manusia
Batuan Reservoir
Batuan reservoir adalah batuan yang berada di bawah permukaan berpori dan permeabel yang memiliki kapasitas penyimpanan serta kemampuan untuk mengalirkan fluida. Sifat fisik penting yang harus terpenuhi oleh batuan reservoir adalah mempunyai porositas, permeabilitas, tekanan kapiler, saturasi fluida, dan kompresibilitas.
Sifat fisik yang harus selalu terpenuhi adalah porositas dan permeabilitas. Porositas merupakan kemampuan pori-pori dalam batuan untuk menyimpan minyak bumi. Besar-kecilnya porositas akan mempengaruhi kapasitas fluida reservoir. Nilainya akan berbanding lurus dengan permeabilitas. Sedangkan permeabilitas yaitu kemampuannya untuk meloloskan fluida.
Layaknya kingdom klasifikasi makhluk hidup, begitupun batuan reservoir memiliki klasifikasi dan jenis yang bermacam-macam. Batuan reservoir terdiri dari batuan sedimen (batu pasir), batuan karbonat, shale, dan vulkanik.