Mengenal HIRADC, Metode Untuk Asesmen Keselamatan Kerja

Bagikan :
HIRADC dalam K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja)

Apapun pekerjaan yang dilakukan, ada kemungkinan kita menemui terjadinya kecelakaan kerja. Dalam hal ini setiap perusahaan harus memiliki seseorang yang ahli di bidang kesehatan dan keselamatan kerja (K3) untuk mencegah hal tersebut. 

Ahli K3 atau disebut juga HSE Officer merupakan seseorang yang bekerja untuk melakukan investigasi, identifikasi, pengendalian kecelakaan kerja, dan penerapan keselamatan kerja. Dalam proses kerjanya, seorang ahli K3 perlu melakukan asesmen terhadap bahaya dan risiko yang ada di tempat kerja. Asesmen ini dilakukan dengan metode HIRADC. 

Tentu kita penasaran apa itu HIRADC dalam lingkup kesehatan dan keselamatan kerja dan apa bedanya dengan JSA? Apa tujuan dilakukan asesmen dengan metode HIRADC? Simak pembahasan berikut ini tentang HIRADC.

Pengertian HIRADC

SMK3 (Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja) dalam sebuah organisasi berfungsi untuk menjalankan kebijakan K3 dan mengelola risiko K3 di dalam organisasi. Penerapan SMK3 berdasarkan pada standar OHSAS 18001:2007 dan ISO 14001:2004. 

Dikutip dari OHSAS 18001:2007 dalam Handoko dan Rahardjo (2017) dalam penelitiannya berjudul “Perancangan HIRADC di Schneider Electric Cikarang” menyebutkan standar OHSAS 18001:2007 bertujuan untuk mencegah potensi terjadinya kecelakaan kerja yang kemungkinan terjadi di lingkungan kerja akibat kondisi K3 yang bisa merugikan. Masih dari sumber yang sama, ISO 14001:2004 merupakan standarisasi yang mengatur tentang sistem manajemen lingkungan yang meliputi struktur organisasi, rencana kegiatan, tanggung jawab, latihan, prosedur, pengembangan, penerapan, evaluasi, dan pemeliharaan kebijakan.

HIRADC adalah kepanjangan dari Hazard Identification Risk Assessment and Determining Control yang merupakan metode untuk identifikasi risiko kecelakaan dalam SMK3. HIRADC adalah salah satu persyaratan OHSAS 18001:2007 klausal 4.3.1 dan ISO 14001:2004. HIRADC dibagi menjadi 3 bagian sesuai dengan singkatannya, yaitu identifikasi bahaya, penilaian risiko, dan penentuan kendali. Hasil dari penyusunan HIRADC digunakan untuk penyusunan tujuan dan target K3 yang akan dicapai.

Tahapan HIRADC

Sebuah organisasi dalam prosesnya menjalankan SMK3 perlu membuat tujuan dan target sehingga untuk menyusun hal tersebut digunakan metode HIRADC. Tahapan HIRADC sebagai berikut.

1. Identifikasi Bahaya (Hazard Identification)

Dikutip dari Handoko dan Rahardjo (2017) dalam penelitiannya berjudul “Perancangan HIRADC di Schneider Electric Cikarang”, identifikasi bahaya dilakukan untuk mengidentifikasi bahaya yang dihadapi para pekerja saat melakukan pekerjaan. Bahaya-bahaya ini harus ditemukan sebelum menyebabkan kecelakaan dan merugikan bagi pekerja maupun perusahaan. Identifikasi bahaya dilakukan dengan melakukan wawancara, pengamatan, dan melihat riwayat data.

2. Penilaian Risiko (Risk Assessment)

Tahapan ini dilakukan setelah menemukan potensi bahaya dari tahap identifikasi bahaya untuk ditentukan risk level dari bahaya tersebut. Penentuan tingkat risiko ini dibedakan menjadi kecil, sedang, besar, dan dapat diabaikan. Hasil identifikasi dan penilaian risiko kemudian dimasukkan ke dalam matriks penilaian. Matriks penilaiannya berdasarkan Australian Standard/New Zealand Standard for Risk Management.

3. Penentuan Kendali (Determining Control)

Pengendalian ini dilakukan dari risiko yang levelnya paling tinggi. Pengendalian risiko ini dilakukan dengan mengurangi kemungkinan (reduce likelihood) dan mengurangi tingkat keparahan (reduce sequence). Pengendalian juga dapat dilakukan dengan mengalihkan risiko seluruhnya atau sebagian (risk transfer) atau menghindar dari risiko (risk avoid). Pengendalian risiko dilakukan berdasarkan hirarki kontrol, yaitu eliminasi, substitusi, engineering control, administrative control, dan APD. Untuk bahaya yang tingkat keparahannya moderate, high, dan extremely high harus dilakukan tindakan lebih lanjut.

Tujuan HIRADC

Tujuan HIRADC dilansir dari keselamatankerja.com antara lain:

1. Bahaya

Untuk mengidentifikasi bahaya dari semua penyebab bahaya yang dapat menjadi potensi kecelakaan bagi semua orang yang ada di lingkungan kerja.

2. Risiko

Untuk mempertimbangkan kemungkinan adanya bahaya yang dapat terjadi sewaktu-waktu serta dampak dan konsekuensi yang ditimbulkan.

3. Pengawasan

Untuk merencanakan, menyusun, dan memantau pengendalian yang berfungsi untuk memastikan bahwa risiko yang ditimbulkan dapat terkontrol menyeluruh dan setiap waktu.

Baca juga: Mengenal Istilah HSE dan Hubungannya dengan K3

Perbedaan HIRADC dan JSA

HIRADC yang merupakan singkatan dari hazard identification risk assessment and determining control adalah metode untuk mengidentifikasi bahaya yang dapat ditimbulkan setiap pekerjaan dalam sebuah organisasi yang kemudian dilakukan penilaian risiko dan pengendalian terhadap risiko tersebut.

Sedangkan JSA merupakan singkatan dari job safety analysis adalah dokumen yang memberikan pedoman dalam identifikasi secara jelas bahaya-bahaya potensi insiden yang berkaitan dengan setiap langkah pekerjaan, memberikan solusi untuk menghilangkan bahaya tersebut, dan mengurangi risiko bahayanya.

JSA ini tidak menyelamatkan pekerja dari keselamatan, namun selama proses pelaksanaan pekerjaan tersebut yang menentukan keselamatan. Sedangkan HIRADC dapat menilai tingkat bahaya setelah itu diturunkan lagi untuk dikendalikan sampai batas yang bisa diterima oleh perusahaan.

Lebih jelasnya perbedaan HIRADC dan JSA sebagai berikut:

1. JSA

  • Obyek yang dinilai adalah langkah-langkah dari sebelum dimulai pekerjaan hingga pekerjaan selesai.
  • Subyek yang dinilai adalah pekerja (person).
  • Langkah pengendalian bahaya sifatnya ke personal yang melakukan pekerjaan.
  • JSA berfokus pada pengendalian bahaya dengan APD dan alat keselamatan.
  • JSA berfokus juga pada unsafe act.

2. HIRADC

  • Obyek yang dinilai adalah bahaya dan risiko dari suatu pekerjaan.
  • Fokus yang ditinjau dari probabilitas dan dampak dari bahaya pekerjaan tersebur.
  • Subyek tidak ke personal, namun ke bahaya yang ditimbulkan dan dikendalikan hingga dapat diterima oleh perusahaan.
  • Pengendalian tidak hanya dengan APD, namun mengikuti hirarki kontrol, yaitu eliminasi, substitusi, engineering control, administrative control, dan APD, mitigasi, dan prosedur kerja.

Kesimpulan

Dalam proses kerja K3 di suatu organisasi, metode HIRADC tidak terlepas dari proses identifikasi hingga penyusunan target K3 organisasi. HIRADC membantu dalam identifikasi bahaya, penilaian tingkat risiko dari suatu potensi bahaya, dan pengendalian terhadap bahaya yang memiliki tingkat keparahan tinggi. HIRADC dan JSA tidak bisa dilepas dari SMK3 karena untuk menjalankan SMK3 harus memiliki dokumen-dokumen ini untuk penentuan target K3 ke depannya.

Solar Industri menawarkan paket pemesanan produk bio solar B30jasa bunker service, dan pembuatan tangki solar di seluruh wilayah Indonesia. Untuk pemesanan lintas negara, silakan hubungi kontak kami yang telah tersedia.

Tags

Butuh Informasi Lebih Lanjut?

Apabila anda tertarik dengan penawaran kami, konsultasikan segera kebutuhan anda dengan menghubungi kontak kami untuk mendapatkan informasi lebih detail terkait produk perusahaan.